Baubau – Universitas Dayanu Ikhsanuddin (Unidayan) kembali menorehkan capaian membanggakan di bidang pengembangan akademik dan internasionalisasi. Sebanyak enam mahasiswa Program Studi Budidaya Perairan mendapat kesempatan mengikuti program magang di Jepang sebagai bagian dari upaya peningkatan kompetensi, pengalaman global, serta penguatan kualitas lulusan di bidang perikanan dan budidaya perairan.Program magang internasional ini menjadi langkah strategis dalam mendukung visi Unidayan sebagai perguruan tinggi yang terus berkembang menuju kampus bereputasi internasional. Melalui program tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman praktik kerja di lingkungan industri perikanan Jepang, tetapi juga berkesempatan mempelajari teknologi, budaya kerja, dan sistem pengelolaan budidaya perairan yang lebih maju.Adapun enam mahasiswa yang mengikuti program magang tersebut terbagi dalam dua kelompok penempatan, yakni pada perusahaan Sato Gyogyou dan Fujimura Gyogyou.Mahasiswa yang ditempatkan di Sato Gyogyou adalah:Yohanes ArmandoGofitPasha Ashhabil SiddiqSementara mahasiswa yang ditempatkan di Fujimura Gyogyou yaitu:Muhammad Israh YansenMuhamad Iksan NgadikinMuh. SuryaKeikutsertaan mahasiswa Budidaya Perairan dalam program magang di Jepang menjadi bukti nyata komitmen Program Studi dan Universitas dalam membuka akses pengalaman belajar yang lebih luas bagi mahasiswa. Program ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan teknis, kedisiplinan, etos kerja, serta wawasan internasional mahasiswa, khususnya dalam bidang budidaya perairan dan perikanan berkelanjutan.Selain memberikan pengalaman profesional, magang internasional juga menjadi media pembelajaran langsung bagi mahasiswa untuk memahami penerapan ilmu budidaya perairan di negara yang memiliki sistem perikanan modern dan terintegrasi. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi bekal berharga bagi mahasiswa saat kembali ke tanah air, baik untuk pengembangan karier maupun kontribusi terhadap sektor perikanan dan kelautan di daerah.Program Studi Budidaya Perairan Unidayan terus berupaya mendorong mahasiswa agar mampu bersaing secara global melalui berbagai program penguatan akademik, kerja sama, dan pengembangan kompetensi berbasis kebutuhan dunia kerja. Kesempatan magang di Jepang ini juga menjadi bagian dari implementasi semangat Kampus Berdampak yang menekankan pentingnya pengalaman belajar di luar kampus, termasuk di dunia industri dan lingkungan internasional.Dengan terlaksananya program ini, Universitas Dayanu Ikhsanuddin menunjukkan komitmennya dalam mencetak lulusan yang unggul, adaptif, dan siap menghadapi tantangan global. Keberangkatan enam mahasiswa Budidaya Perairan ke Jepang diharapkan menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berprestasi, memperluas pengalaman, dan membawa nama baik Unidayan di tingkat internasional.Baca Juga Berita:LERIN UNIDAYAN GELAR PEMUTARAN FILM DOKUMENTER KOCIKA DAN DISKUSI BUDAYA CIA-CIA, RATUSAN MAHASISWA ANTUSIASLPM UNIDAYAN GELAR FGD PENYUSUNAN REGULASI PERIKANAN GURITA DI KABUPATEN BUTONPENYERAHAN SK IZIN PEMBUKAAN PROGRAM STUDI KEDOKTERAN PROGRAM SARJANA DAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI DOKTER OLEH KEMENRISTEKDIKTI
SelengkapnyaBaubau, 18 Juni 2026 – Lembaga Riset dan Inovasi Universitas Dayanu Ikhsanuddin (LeRIN Unidayan) menggelar kegiatan Pemutaran Film dan Diskusi Budaya bertajuk KOCIKA: Astrologi Tradisional Masyarakat Cia-Cia di Baruga La Ode Malim Unidayan, Kamis (18/6/2026). Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari ratusan mahasiswa yang hadir untuk menyaksikan film dokumenter sekaligus mengikuti diskusi mengenai pengetahuan tradisional masyarakat Cia-Cia sebagai bagian dari kekayaan budaya lokal Buton.Kegiatan tersebut menjadi ruang akademik dan kultural bagi mahasiswa untuk mengenal lebih dekat nilai-nilai kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat. Tidak hanya menampilkan pemutaran film dokumenter, acara ini juga dirangkaikan dengan diskusi budaya yang menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi, budayawan, dan sutradara.Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan ini Dr. La Ode Abdul Munafi, M.Si. selaku akademisi, La Ode Alirman, S.H. selaku budayawan Buton, Haeruddin, S.Pd., M.A. dan Arif Relano Oba selaku sutradara, dengan Dr. Ld. Syaiful Islamy H., M.Si. Kepala Lembaga Riset dan Inovasi Unidayan yang juga bertindak sebagai moderator.Sutradara film KOCIKA, Haeruddin yang juga merupakan Dekan FKIP Unidayan, menjelaskan bahwa proses penggarapan film dokumenter tersebut telah dimulai sejak tahun 2025. Namun, realisasi produksi hingga penayangan baru dapat terlaksana pada tahun 2026 setelah memperoleh dukungan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui program Dana Indonesiana.Menurutnya, Kota Baubau dipilih sebagai lokasi pemutaran karena memiliki keterkaitan erat dengan latar produksi film. Sebagian besar proses pengambilan gambar dilakukan di Kelurahan Karya Baru, Kecamatan Sorawolio, yang dikenal sebagai salah satu wilayah dengan masyarakat suku Cia-Cia.Haeruddin mengungkapkan bahwa tema Kocika memiliki kedekatan emosional dengan pengalaman pribadinya. Kenangan masa kecil saat tinggal di lingkungan keluarga yang mengenal praktik Kocika menjadi salah satu inspirasi dalam proses kreatif film tersebut. Bagi dirinya, Kocika bukan sekadar tradisi lama, melainkan bagian dari pengetahuan lokal yang pernah menjadi pedoman masyarakat dalam menentukan waktu, membaca pertanda, dan mengambil keputusan penting dalam kehidupan sehari-hari.Dalam pemaparannya, Haeruddin menjelaskan bahwa Kocika di wilayah Sorawolio memiliki karakteristik tersendiri. Tradisi ini digunakan untuk membaca peredaran bulan dan hari guna menentukan waktu yang dianggap baik untuk melakukan aktivitas tertentu. Dalam keyakinan masyarakat, terdapat hari-hari yang dipandang membawa pertanda baik maupun kurang baik. Di sisi lain, praktik Kocika juga berkaitan dengan ritual tertentu yang dilakukan sebagai bagian dari ikhtiar menghadapi persoalan hidup.Melalui film dokumenter ini, Haeruddin berharap generasi muda dapat lebih mengenal dan menghargai pengetahuan leluhur sebagai bagian dari identitas budaya daerah. Ia menilai warisan budaya lokal perlu dipahami secara bijak, bukan untuk dipertentangkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi sebagai bagian dari khazanah pengetahuan yang patut dipelajari dan dilestarikan.Sementara itu, La Ode Alirman menegaskan bahwa Kocika merupakan salah satu warisan pengetahuan masyarakat Buton yang telah dikenal sejak masa lampau. Dalam tradisi masyarakat Cia-Cia, simbol-simbol dalam Kocika diyakini memiliki makna tertentu yang berkaitan dengan pembacaan waktu, peristiwa, dan pertimbangan hidup.Menurutnya, penting bagi generasi muda untuk mengenal budaya daerahnya sendiri agar tidak kehilangan keterhubungan dengan akar identitas lokal. Pemahaman terhadap tradisi seperti Kocika dinilai dapat menumbuhkan kesadaran budaya sekaligus memperkuat penghargaan terhadap nilai-nilai yang diwariskan oleh leluhur.Antusiasme mahasiswa terlihat sepanjang kegiatan berlangsung, khususnya pada sesi diskusi budaya. Sejumlah mahasiswa aktif mengajukan pertanyaan dan berdialog langsung dengan para narasumber mengenai makna Kocika, relevansinya di tengah perkembangan zaman, serta tantangan dalam menjaga keberlanjutan kearifan lokal di era modern.Melalui kegiatan ini, Unidayan kembali menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya berfokus pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki komitmen dalam pelestarian budaya lokal. Pemutaran film dokumenter KOCIKA dan diskusi budaya ini diharapkan menjadi medium edukatif bagi mahasiswa untuk lebih mengenal, memahami, dan merawat warisan budaya daerah sebagai bagian penting dari identitas bangsa.Baca Juga Berita:LPM UNIDAYAN GELAR FGD PENYUSUNAN REGULASI PERIKANAN GURITA DI KABUPATEN BUTONPENYERAHAN SK IZIN PEMBUKAAN PROGRAM STUDI KEDOKTERAN PROGRAM SARJANA DAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI DOKTER OLEH KEMENRISTEKDIKTIUNIVERSITAS DAYANU IKHSANUDDIN MATANGKAN PERSIAPAN WISUDA SARJANA KE-53 DAN PASCASARJANA KE-32 MELALUI RAPAT KOORDINASI PANITIA
SelengkapnyaBUTON – Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) Universitas Dayanu Ikhsanuddin (Unidayan) terus memperkuat perannya dalam mendukung pengelolaan sumber daya kelautan yang berkelanjutan. Melalui Program Tropical Forest and Coral Reef Conservation Act (TFCCA), LPM Unidayan menggelar Focus Group Discussion (FGD) penyusunan regulasi spesifik perikanan gurita di Kabupaten Buton, Minggu (7/6/2026).Kegiatan yang berlangsung di Kabupaten Buton tersebut melibatkan unsur pemerintah daerah, organisasi pendamping, akademisi, serta nelayan dari desa-desa sasaran program. Forum ini menjadi wadah untuk menghimpun masukan berbagai pihak dalam merumuskan tata kelola perikanan gurita yang berkelanjutan dan berbasis kondisi lokal masyarakat pesisir.Project Coordinator TFCCA Buton LPM Unidayan, Dr. Alim Setiawan, S.Kel., M.Si., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan program TFCCA yang saat ini memasuki siklus pertama dengan durasi pelaksanaan selama 18 bulan. Program tersebut diarahkan untuk mendukung pengelolaan sumber daya perikanan yang berkelanjutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.Sebelum pelaksanaan FGD, tim program telah melakukan serangkaian kegiatan koordinasi serta survei baseline sosial ekonomi di Desa Kumbewaha dan Desa Bahari Makmur, Kecamatan Siotapina, serta Desa Bajo Bahari, Kecamatan Wabula. Survei tersebut bertujuan memperoleh gambaran kondisi masyarakat dan sumber daya perikanan sebagai dasar penyusunan kebijakan pengelolaan gurita di Kabupaten Buton.Hasil kajian menunjukkan bahwa sektor perikanan tangkap masih menjadi penopang utama perekonomian masyarakat di wilayah sasaran. Perikanan gurita juga tercatat sebagai salah satu komoditas penting yang memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan nelayan dan keluarga pesisir.Dari aspek lingkungan, kondisi habitat dan area penangkapan gurita pada umumnya masih berada dalam kategori baik. Namun demikian, hasil pengamatan tim menunjukkan perlunya perhatian khusus terhadap kondisi ekosistem terumbu karang di Desa Kumbewaha yang berada pada kategori sedang sehingga membutuhkan upaya pengelolaan yang lebih optimal.Menurut Dr. Alim Setiawan, hasil survei dan kajian lapangan tersebut akan menjadi landasan dalam penyusunan rancangan tata kelola perikanan gurita yang diharapkan dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah dalam merumuskan regulasi pengelolaan sumber daya perikanan.Ia menjelaskan bahwa keberadaan regulasi sangat penting untuk menjaga keberlanjutan populasi gurita yang memiliki siklus hidup relatif singkat. Tanpa pengelolaan yang baik, sumber daya tersebut berpotensi mengalami penurunan akibat tingginya tekanan penangkapan.Rancangan regulasi yang dibahas dalam FGD mencakup sejumlah aspek penting, antara lain pengaturan musim penangkapan, ukuran minimum gurita yang dapat ditangkap, serta pengelolaan wilayah penangkapan yang sesuai dengan prinsip keberlanjutan.Selain itu, forum diskusi juga membahas berbagai temuan lapangan terkait kecenderungan perubahan ukuran dan hasil tangkapan gurita yang menjadi salah satu indikator perlunya langkah pengelolaan yang lebih terencana dan berbasis data.Melalui kegiatan ini, LPM Unidayan berharap dapat memperkuat kolaborasi antara pemerintah daerah, masyarakat nelayan, organisasi pendamping, dan perguruan tinggi dalam mewujudkan tata kelola perikanan gurita yang berkelanjutan. Sinergi tersebut diharapkan mampu menjaga kelestarian sumber daya laut sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat pesisir Kabupaten Buton.Baca Juga Berita:PENYERAHAN SK IZIN PEMBUKAAN PROGRAM STUDI KEDOKTERAN PROGRAM SARJANA DAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI DOKTER OLEH KEMENRISTEKDIKTISUPERVISI KKN TEMATIK UNIVERSITAS DAYANU IKHSANUDDIN ANGKATAN XIII DI KABUPATEN BUTON TENGAHPELANTIKAN PENGURUS KPUM UNIVERSITAS DAYANU IKHSANUDDIN PERIODE 2026, PERKUAT DEMOKRASI MAHASISWA DI LINGKUNGAN KAMPUS
Selengkapnya